Kata "Biasa" yang Ternyata Tak Biasa

“Biasa”: Kata Paling Aman untuk Tidak Peduli

Dalam banyak percakapan sehari-hari, kata biasa adalah pelindung diri paling ampuh. Ia bisa dipakai kapan saja, di situasi apa saja, dan nyaris tanpa risiko. Ketika sesuatu terasa ganjil, tidak adil, atau agak memalukan, cukup ucapkan satu kata ini: biasa. Selesai. Pikiran pun tenang, nurani ikut rebahan.

Lihat saja cara kerja kata ini. Ada pelayanan publik lambat? Biasa. Guru jarang masuk kelas? Biasa. Pejabat salah bicara lalu minta maaf setengah hati? Biasa. Kata ini seperti stempel “tidak perlu dipikirkan lebih lanjut”. Begitu ditempel, otak berhenti memproses, dan hati berhenti bertanya.

Menariknya, biasa sering menyamar sebagai kebijaksanaan. Orang yang paling cepat bilang “sudah biasa begitu” sering dianggap matang, realistis, bahkan berpengalaman. Padahal, bisa jadi ia hanya sangat terlatih dalam seni menerima keadaan tanpa ribut. Dalam banyak kasus, biasa bukan tanda kedewasaan, melainkan tanda kelelahan kolektif.

Di dunia pendidikan, kata ini punya posisi yang cukup mapan. Nilai murid pas-pasan? Biasa. Metode mengajar tak berubah sejak satu dekade lalu? Biasa. Sekolah kekurangan fasilitas? Biasa, yang penting jalan. Kata biasa di sini bekerja seperti rem tangan: memastikan tidak ada yang melaju terlalu jauh, apalagi bermimpi ketinggian.

Yang lucu, biasa juga sering dipakai untuk menenangkan diri sendiri. Ketika kualitas menurun, ketika standar makin longgar, kita berbisik lirih, “Ya sudah, biasa saja.” Dengan satu kata, kegelisahan berubah jadi pembenaran. Tidak perlu marah, tidak perlu berubah—cukup terbiasa. Padahal, banyak hal yang kita sebut biasa sebenarnya cukup luar biasa—dalam arti yang buruk. Ketimpangan yang nyata, kekerasan verbal yang terang-terangan, atau kebijakan yang merugikan banyak orang. Tapi selama semuanya terjadi berulang, kita punya satu jurus pamungkas: menormalkannya lewat bahasa.

Tentu, hidup memang butuh kompromi. Tidak semua hal harus diributkan. Tapi ketika kata biasa dipakai terlalu sering, ia berubah dari penenang menjadi penutup mata. Ia membuat kita merasa baik-baik saja di tengah keadaan yang sebenarnya tidak baik-baik saja.

Mungkin, sesekali kita perlu curiga pada kata yang terdengar paling santai ini. Bertanya dengan nada polos tapi berbahaya: apanya yang biasa? Sejak kapan kita sepakat menerima ini? Dan yang paling mengganggu: siapa yang diuntungkan ketika semuanya dianggap biasa?  Sebab bisa jadi, masalah terbesar kita bukan karena terlalu banyak hal yang salah—melainkan karena terlalu banyak yang keburu kita sebut biasa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Linguistik dalam Percakapan Sehari-hari

Antara Apa yang Dikatakan dan Apa yang Dimaksud

Kata-Kata dan Cara Kita Menerima Keadaan